I. CERITA KOMUNITAS
TENTANG PENAMBAHAN UNIT BARU (PKRS)
DAN KEGIATAN AWALNYA
Untuk persiapan akreditasi,
dalam sebuah Rumah Sakit harus ada unit Promkes (Promosi
Kesehatan). Awalnya bingung bagaimana cara
memulainya. Terbentur dana, orang yang akan menjadi pelaksana dan terlebih
pengertian tentang Promkes belum begitu dipahami.Sampai pada bulan Mei 2013 ada
tawaran dari Perdhaki Pusat, rumah sakit kita dijadikan Pilot Project mereka
khusus dalam Unit PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit).
Awalnya 3 orang diundang untuk datang ke
Bogor guna mengikuti pelatihan diakhir bulan Agustus. Yang mengejutkan adalah:
kami diberi dana APBN
untuk mengadakan kegiatan PKRS dalam bulan September dan pelaporannya pada awal bulan Oktober.Kalau
awalnya, kami tidak tahu bagaimana bisa
mengadakan Unit PKRS, sekarang kami
bingung bagaimana memulai Unit PKRS dengan pengetahuan yang sudah ada.Dan Tuhan
Allah menyertai kami: Pembentukan Tim Kerja, 3 kali Penyuluhan, pengadaan
leaflet, booklet, banner, poster dan pastoral care dapat terlaksana dengan baik
dalam waktu 1 bulan sesuai yang dijadwalkan.
Kami sangat kagum dengan apa yang dibuat
oleh Tim PKRS dan para Suster, yang selama ini terkesan tertutup untuk dunia
luar Rumah Sakit. Dengan diadakannya kegiatan penyuluhan ini baik di Sekolah
Dasar maupun ibu-ibu PKK dan penyuluhan di rumah
sakit, kelihatan semua merasa senang, audiens mendapat penge-tahuan
yang baru, para penyuluh dapat pembelajaran bagaimana mengadakan kegiatan
yang baik sebagai Tim PKRS, malah mereka (3 kelompok yang disuluh) menawarkan
kepada Tim PKRS untuk bekerja sama bila ada
kegiatan seperti ini lagi.
Semangat yang luar biasa untuk Tim PKRS dalam
menyampaikan Penyuluhan kepada sesama baik di dalam
dandi luar
Rumah Sakit membuahkan suatu keterbukaan komunikasi
yang aktif dan terjalin rasa ke-keluargaan.
PEMBELAJARAN
BAGI KOMU-NITAS
1. MEMASRAHKAN DIRI PADA KEHENDAK ALLAH: Sebuah mimpi yang ingin
diwujudkan untuk peningkatan mutu pelayanan, jika Tuhan berkenan dan kita
tulus dalam mencoba melaksanakannya maka hal itu bisa terwujud sesuai dengan
kehendak Allah dan dengan cara-Nya yang kita tidak tahu.
2. BERBAGI: Menyediakan diri untuk terlibat dalam suatu kegiatan
dan bekerja sama sehingga saling memperkaya kreatifitas satu dengan yang
lainnya.
3. TERBUKA: Sebagai motivator untuk memberi support kepada
karyawan/ti sehingga mereka
memiliki loyalitas untuk pelayanan
karya kita, merubah pikiran yang negatif menjadi positif.
II. NILAI-NILAI
KEHIDUPAN YANG TELAH DIHAYATI KOMUNITAS UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS DALAM
MISINYA DEMI KEHIDUPAN DALAM BIDANG:
1.
SPIRITUALITAS:
a.
KESETIAAN: Dalam hidup rohani belajar untuk setia
baik untuk diri sendiri maupun untuk bersama walaupun mengalami jatuh bangun
sehingga doa menjadi rahmat
dalam menjalani hidup setiap hari.
b.
KEKUATAN: Bertekun dan penyerahan dalam doa,
karena doa menjadi kekuatan dalam hidup sepanjang hari.
2.
HIDUP KAUL SEBAGAI MU-RID-MURID KRISTUS:
a.
KAUL KEMISKINAN:
·
BERBAGI: Kemurahan hati
dalam berbagi apa yang dimiliki.
·
KESEDERHANAAN: Berani
mengatakan cukup pada diri sendiri.
b.
KAUL KETAATAN :
·
KERENDAHAN HATI:
Berani
menerima yang tidak disenangi lewat setiap perutusan
yang selalu siap sedia.
·
TERGANTUNG SEPE-NUHNYA PADA KE-HENDAK ALLAH: Ada suatu perjuangan
dalam setiap
menjalankan tugas walaupun
berat namun bersama
dengan kasih Allah maka hal itu mampu untuk dilaksanakan dengan sepenuh
hati.
c.
KAUL KEMURNIAN:
· CINTA PERSAUDARA-AN: Sebagai pengikut Kristus berani berpikir
positif
terhadap sesama.
·
KETULUSAN HATI: Berani
mengatakan ya jika ya, dan mengatakan tidak jika tidak.
3.
HIDUP KOMUNITAS:
· KETERBUKAAN
DIRI: Memiliki
kerendahan hati untuk saling mengerti dan belajar ber-interaksi
dengan aneka generasi
& budaya yang ada di dalam komunitas.
·
KEBERANIAN UNTUK
MENGISI DAN DIISI:
Dalam hidup komunitas, berani memberikan
masukan kepada orang lain lewat teguran baik itu menyenangkan maupun tidak
menyenangkan demikian sebaliknya.
·
MAU BERUBAH
DIRI:
Dalam hidup komunitas berani untuk
menyesuaikan diri dimana kita diutus dan saling belajar
satu dengan yang lainnya.
4. PELAYANAN MISI/KERASULAN:
· KETERBUKAAN
DIRI: Da-lam
menjalankan setiap perutusan, berani terbuka untuk melayani setiap orang yang dipercayakan baik
dalam lingkungan
karya maupun gereja lokal.
· PENDAMPINGAN: Memberi
motivasi kepada yang kita layani, untuk hidup lebih mandiri
dan menjadi pendengar yang baik untuk sesama.
III. HARAPAN-HARAPAN
DIMASA DEPAN UNTUK SEMAKIN DIDAYAI OLEH ROH
KUDUS UNTUK BERBAGI KABAR GEMBIRA DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT
·
Keberanian untuk
mengosongkan diri:
saat dalam diri kita ada ruang kosong, Allah yang akan mengisi sampai penuh
sehingga Roh Kudus akan mendayai kita lewat karya-karya yang dipercayakan pada
kita.
·
Membuka diri untuk semakin
ter-sedia
bagi sesama.
·
Ketergantungan pada
Allah:
kita yang memulai, Allah yang akan menyempurnakan.
Sr. Vincentia SSpS
Piko Ampenan Lombok
Infokom Edisi 38, Juli-Agustus 2014
No comments:
Post a Comment